Kamis, 05 Januari 2012

HUT Jember Dimeriahkan Festival Reog

Jember (jurnalbesuki.com) - sedikitnya 20  grup kesenian reog yang ada di Jember ikut serta dalam kegiatan dalam rangka memperingati HUT Kabupaten Jember Ke 83 dan tahun baru 2012.
 
Meski siang harinya Jember sempat diguyur hujan deras namun ribuan orang tetap memadati alun-alun dan tidak beranjak sedikitpun hingga acara tersebut selesai, hal ini menunjukan kesenian tradisional khususnya reog Ponorogo masih tetap mendapat apresiasi potif dari masyarakat Jember.

Festival itu sendiri dibuka oleh Arief Tjahjono, SE Kepala Kantor Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Jember, sedianya bupati MZA Djalal akan membuka festival tersebut namun berhalangan hadir.

Dalam kata sambutannya Arif Tjahjono sangat menyambut baik diadakannya festival seni dan budaya tersebut, masyarakat Jember yang multi kultur dan multi etnis merupakan cerminan dari miniatur bangsa Indonesia. Meski kesenian Reog bukan kesenian asli Jember, namun kesenian itu ternyata dapat diterima oleh masyarakat sebagai salah satu keaneka ragaman budaya.Ajang festival seni dan budaya  tidak hanya sekedar tontonan menghibur bagi masyarakat.

Namun lebih dari itu juga merupakan wadah bagi pelestarian kesenian tradisional, karena itu Arief sangat mendukung terhadap usulan festival seni dan budaya agar bisa dijadikan agenda tahunan serta sekaligus bagian dari kegiatan HUT Kabupaten Jember dan hal itu nantinya akan disampaikan kepada bupati Jember MZA Djalal.

“Pemerintah daerah dalam hal ini Kantor Pariwisata Seni dan Budaya Pemkab Jember sangat mendukung upaya untuk melestarikan  budaya tradisional, tadi dalam dalam festival ini tidak hanya reog yang ditampilkan namun juga ada pertunjukan barongsai. Harapannya masyarakat Jember dapat terhibur dan mengenali budaya tradisional,” ujar Arief.

Untuk penyelenggaraan festival semacam ini tidak hanya diikuti oleh 20 grup reog saja tapi kalau bisa lebih sehingga bisa lebih semarak lagi. Keanekaragaman budaya bangsa merupakan perwujudan dari bhineka tunggal ika yakni berbeda-berbeda tapi tetap satu, sudah seharusnya kesenian tradisional harus dilestarikan dan tidak maolah terpinggirkan dengan masuknya budaya asing seiring dengan kemajuan teknologi.

Terhadap keberadaan kesenian tradisionsal seoperti reog Ponorogo, Kantor Pariwisata Seni dan Budaya Pemkab Jember mempunyai kewajiban untuk membina dan memfasilitasi kesenian tersebut.Dengan upaya tersebut setidaknya kesenian tradisional bisa lebih eksis, apalagi Arief melihat kesenian reog Ponorogo merupakan kesenian tradisional yang berhasil melakukan regenerasi pemain.

Di Kabupaten Jember sendiri, saat ini reog  banyak dimainkan oleh generasi muda, hal itu dibuktikan dengan adanya grup reog Ponororogo di lingkup perguruan tinggi seperti di Universitas Jember.Kondisi ini jelas merupakan angin segar bagi kelangsungan  kesenian tradisional seperti reog Ponorogo, apalagi hampir di seluruh daerah di Indonesia hingga ditingkat kabupaten kesenian tradional reog ini dapat dijumpai.

Sementara itu Drs.Joko Soponyono,MSi Plt Kabag Humas Pemkab Jember juga ikut peduli dengan pelestarian kesenian tradisional, karena itu dimasukkannya festival seni dan budaya sebagai kegiatan rutin tahunan dalam rangka HUT Jember merupakan keinginan positif untuk mempertahankan kesenian tradisional agar tidak musnah.
 
http://www.jurnalbesuki.com/index.php?option=com_content&task=view&id=13786&Itemid=49
2 Jan 2012

Selasa, 03 Januari 2012

Pemkab Jember Puji Regenerasi Reog

Jember (beritajatim.com) - Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Jember memuji kemampuan para pelaku seni tradisi reog melakukan regenerasi.

Kepala Kantor Pariwisata Arief Tjahjono melihat, saat ini reog  banyak dimainkan oleh generasi muda. Hal itu dibuktikan dengan adanya grup reog Ponororogo di lingkup perguruan tinggi seperti di Universitas Jember.

"Kondisi ini jelas merupakan angin segar bagi kelangsungan kesenian tradisional seperti reog Ponorogo. Apalagi hampir di seluruh daerah di Indonesia hingga di tingkat kabupaten kesenian tradional reog ini dapat dijumpa," kata Arief, sebagaimana dilansir Humas Pemkab Jember.

Terhadap keberadaan kesenian tradisional sperti reog Ponorogo, Kantor Pariwisata Jember wajib membina dan memfasilitasinya. Dengan upaya tersebut setidaknya kesenian tradisional bisa lebih eksis. Salah satunya, melalui festival seni dan budaya, di depan kantor Pemkab Jember Jl.Sudarman No 1 Jember, tempo hari.

Masyarakat Jember yang multi kultur dan multi etnis merupakan cerminan dari miniatur bangsa Indonesia. Meski kesenian Reog bukan kesenian asli Jember, namun kesenian itu ternyata dapat diterima oleh masyarakat sebagai salah satu keaneka ragaman budaya. Ajang festival seni dan budaya  tidak hanya sekedar tontonan menghibur bagi masyarakat, namun lebih dari itu juga merupakan wadah bagi pelestarian kesenian tradisional. Arief sangat mendukung usulan festival seni dan budaya dijadikan agenda tahunan, sekaligus bagian dari kegiatan HUT Kabupaten Jember.

"Harapannya masyarakat Jember dapat terhibur dan mengenali budaya tradisional. Untuk itu, penyelenggaraan festival semacam ini tidak hanya diikuti oleh 20 grup reog saja, tapi kalau bisa lebih, sehingga bisa lebih semarak lagi," kata Arief.

"Kesenian tradisional harus dilestarikan dan tidak malah terpinggirkan dengan masuknya budaya asing, seiring dengan kemajuan teknologi," tambah Arief.
 
http://www.beritajatim.com/detailnews.php/2/Gaya_Hidup/2012-01-02/122638
2 Januari 2012

Kamis, 29 Desember 2011

Sarasehan Menuju Kampung Reog Ponorogo

LENSA INDONESIA.COM: Kesenian Reog Ponorogo sudah mendunia.Berangkat dari fakta itu, muncul ide untuk membentuk kampung reog, dimana akan berkumpul insan-insan yang memiliki ketrampilan dan kesenian yang berhubungan dengan reog.
Untuk mendukung hal itu diadakan sarasehan dengan mengundang paras eniman,pemerhati,akademisi bahkan juga dari dinas Indakop. Harapannya, kampung reog bisa menjadi lokasi wisata budaya yang mempunyai nilai jual dan mampu memberikan kontribusi pada APBD Ponorogo.
H.Amin, Bupati Ponorogo yang membuka sarasehan tersebut berpesan, agar dirancang yang matang sehingga benar-benar terwujud,dan bisa memberikan manfaat bagi kemajuan masyarakat Ponorogo.”
Ide ini tidak semata-mata kepentingan hiburan,tetapi juga membawa misi pendidikan dan dalam rangka nguri-nguri budaya.
“Kampung reog ini harus bisa menjadi magnet besar dunia wisata di Jawa TImur.Kita himpun semua potensi yang ada,” tegas Yusuf Harsono, budayawan reog.
 
http://www.lensaindonesia.com/2011/12/18/sarasehan-menuju-kampung-reog-ponorogo.html