Selasa, 19 Januari 2010

Sedot Puluhan Ribu Wisatawan Larung Sesaji di Telaga Ngebel

Rangkaian pesta budaya Grebeg Suro telah berakhir. Kegiatan yang menyedot dana APBD sekitar Rp 1,3 miliar itu ditutup dengan larung sesaji di Telaga Ngebel, kemarin (18/12). Prosesi adat desa setempat itu menyedot puluhan ribu wisatawan. Baik yang datang dari Ponorogo, luar kota, bahkan turis mancanegara.

Para wisatawan dengan antusias menyaksikan prosesi larung sesaji hasil bumi itu. Mulai dari kirab tumpeng beras merah dan hasil bumi, selamatan, hingga larung ke tengah telaga.''Sangat menarik, tapi sayang saya tidak tahu makna prosesi sesaji itu,'' kata Deny Hendrawan, wisatawan asal Surabaya.

Prosesi larung dimulai dengan kirab tumpeng yang berisi hasil buni seperti tomat, pisang, terong, dan berbagai hasil kebun warga. Sebelum dibawa ke tengah telaga, para pemuka adat desa setempat memanjatkan doa di tepi telaga, sebelum akhirnya tumpeng ditenggelamkan di telaga. ''Tidak ada unsur mistik, itu hanya simbol adat yang biasa dijalankan warga setempat,'' terang Gunardi, Kepala Dinas Pariwisata Ponorogo.

Menurut Gunardi, larung sesaji merupakan salah satu ikon wisata budaya di Telaga Ngebel. Dan, jumlah pengunjung kali ini meningkat dibanding tahun lalu. Kenaikannya, lebih dari seribu pengunjung dari tahun lalu sekitar 15 ribu wisatawan. ''Kondisi cuaca saat ini cukup bagus, makanya banyak sekali yang datang, khususnya dari luar kota,'' katanya.

Sementara, Heri Akhmadi, anggota DPR RI dari PDIP yang juga asli Ponorogo mengkritik pelaksanaan perayaan grebeg yang dinilainya terlalu monoton. Baik saat larung sesaji maupun Festival Reyog Nasional (FRN). Menurutnya, tidak ada perubahan yang menarik dalam kegaiatan itu. ''Saya sangat prihatin kalau melihat perayaan festival reyog,'' kritiknya.

Dikatakan, festival reyog yang berskala nasional masih ditempatkan sebagai sub objek dari grebeg. Buktinya, tempat reyog kalah dominan dengan pasar malam.Sehingga pengunjung dikalahkan dengan bising dan kesibukan pasar malam.

Heri juga mengkritik metode penilaian dewan juri dalam festival reyog yang menurutnya masih sangat kaku terhadap pakem reyog.''Karena reyog itu sifatanya sudah nasional bahkan internasional, maka harus memberikan kelonggaran. Kalau tetap kaku seperti itu, lama kelamaan reyog akan kehilangan penggemar,'' tandasnya.

Jawa Pos (Radar Madiun), 19 Des 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari kita rembug bersama, agar kesenian reog lebih berkwalitas dan berkembang, tetapi jika ngobrol tanpa ada ACTION sama halnya BO'ONG, maka setelah kita ngbrol sambil NGOPI kita TATA gamelan dan langsung kita REOGAN.....