Rabu, 10 Februari 2010

Reog Ponorogo

Jakarta, VOI Fitur - Apakah Anda pernah melihat kesenian Reog? Sebuah pertunjukan yang selalu memperlihatkan sepasang dadak merak sebagai ikonnya, topeng berkepala singa berukuran besar dan lebar. Kesenian tradisional yang berasal dari daerah Ponorogo, Jawa Timur ini bersumber dari perjalanan cerita Raja Ponorogo ketika ingin melamar seorang putri dari Kediri, Dewi Ragil Kuning.

Namun, di tengah perjalanannya, ia dihadang oleh Raja Singabarong dari Kediri, pertarungan pun tidak dapat dihindari. Pasukan Raja Singabarong yang terdiri dari Merak dan Singa berperang melawan pihak Kerajaan Ponorogo yang terdiri dari Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom serta beberapa warok, pria berpakaian hitam dan memiliki ilmu hitam mematikan. Itulah sebabnya mengapa................Seni tarian perang dalam pertunjukan Reog Ponorogo selalu mendominasi gerakan para pemainnya

Dulu, pertunjukan Reog selalu dimainkan sesuai dengan alur cerita aslinya,sekarang alur cerita yang dimainkan sesuai dengan hajatnya, bila pada acara pernikahan, adegan yang dimainkan tentang percintaan. Sementara, untuk acara hajatan khitanan atau sunatan, cerita yang dimainkan tentang perjuangan pendekar.

Setiap kali pertunjukan, kesenian Reog Ponorogo dimainkan dalam sebuah tim. Karena.............. dalam sebuah alur cerita yang dimainkan, kesenian ini terdiri dari 2 hingga 3 tarian pembukaan serta adegan inti. Tarian pembuka dimainkan oleh 2 orang warok, pemain lelaki yang mengenakan pakaian serba hitam dengan tata rias wajah dipoles warna merah.

Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Selain itu, ada tarian jatilan yang dimainkan oleh 6 hingga 8 gadis penunggang kuda hiasan dari anyaman bambu. Awalnya, penari jatilan hanya laki-laki, kini, pemainnya digantikan oleh wanita yang berpakaian seperti lelaki. Setelah tarian pembuka selesai , kemudian dilanjutkan dengan adegan inti yang tergantung dari waktu pertunjukannya.

Biasanya, diawali dengan munculnya 2 dadak merak, pemain yang memakai topeng berkepala singa yang terbuat dari bulu burung merak. Kemudian dilanjutkan dengan tarian Jaipong ataupun kuda lumping yang mempertunjukkan kemampuan makan pecahan kaca tanpa luka sedikitpun sebagai hiburan masyarakat. Budi, pengelola salah satu sanggar seni Reog Ponorogo di Jakarta beberapa waktu lalu kepada Voice Of Indonesia mengungkapkan

"Peserta dalam 1 grup ini minimal 30 orang. Klono 1, Pungganong itu 2, Dadak merak 2, Jatil 8, Warok 2, dan Pengrawit10 hingga 15."

Topeng reog Ponorogo beratnya mencapai 60 hingga 70 kilogram dengan lebar sekitar 2 meter. Tidak semua orang mampu menjadi pemain Reog khususnya dadak merak. Karena.................para pemain dadak merak harus mempunyai kemampuan yang luar biasa, tidak hanya kuat secara fisik tetapi juga mental. Melalui sebuah ritual , mereka dibuat tidak sadar atau sudah dipengaruhi oleh roh halus ia akan melompat, menari, serta melakukan berbagai macam atraksi sambil membawa topeng besarnya.

Selama pertunjukan Reog berlangsung, berbagai macam alat musik , seperti gong, kendang, tipung, angklung, serta selompret atau terompet menjadi pengiring tarian dan atraksi para pemainnya. Alunan musik yang secara terpadu dimainkan bersama tersebut semakin menambah kesan tradisional dari kesenian Reog Ponorogo. Seperti yang telah diungkapkan kembali oleh Budi berikut ini:

"Musiknya itu pertama kendang, tipung 1, kendang kecil itu namanya tipung, kenong ada 2, gong, trus kalau gong itu yang besar, kalau koneng yang kecil ada 2, selompret atau terompet, angklung 2."

Jika dulu Reog Ponorogo hanya menjadi pertunjukan kesenian tradisional dalam sebuah acara nasional saja, seperti pernikahan, khitanan ataupun ketika memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia di bulan Agustus saja. Seiring dengan upaya dari para pecinta seni, Reog telah mampu menunjukkan jati diri sebagai sebuah kesenian tradisional yang tidak ternilai harganya. Bahkan, telah mampu menarik perhatian masyarakat mancanegara, di Philipina dan Amerika Serikat misalnya. Sebagai seorang seniman sekaligus pecinta seni Reog Ponorogo, Budi mengungkapkan secara turun-temurun, ia tidak hanya menjadi pemain tetapi juga berupaya untuk terus melestarikan Reog sebagai kesenian bangsa yang patut untuk dihargai.

"Mengembangkan atau melestarikan, ini khan seni tradisional. Saya berusaha untuk mempertahankan seni tradisi ini agar orang Indonesia sendiri khususnya mengerti bahwa kita punya seni yang begitu mahal. Karena di luar negeri pun kita dihargai, kita di Philipina, kita sudah pernah di Philipina tahun 2004, disana tanggapannya juga bagus."

Sumber : http://id.voi.co.id, 27 Januari 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari kita rembug bersama, agar kesenian reog lebih berkwalitas dan berkembang, tetapi jika ngobrol tanpa ada ACTION sama halnya BO'ONG, maka setelah kita ngbrol sambil NGOPI kita TATA gamelan dan langsung kita REOGAN.....