Jumat, 2008 Oktober 17

Gamelan Reog dan Dua Wangsa Besar Jawa

" Slompret ngempret, kempul ngungkung
Kendang Riyel, Ketipung imbal
Bonang loro tur slendro, selompret pelog...
Jaran kepang nyongklang, merake ngigel
Macan mangap megap - megap
Bujang Ganong Galeyah imbal
Wus wancine yen to reog gawe gumbiro...... "

Dalam sebuh pertunjukan kesenian reog, biasanya orang terkesima dengan para penarinya yang sangat mempesona, baik itu penari warok, bujang ganong, jathilan maupun pembarong yang menarikan dhadhak merak. Penonton terkesima dengan penari Bujang Ganong yang atraktif, humor dan akrobatik, daya kekuatan dan pesona magis dari seorang pembarong, kecantikan dan kemolekan penari jathilan. Daya pesona para pemain dalam penampilan tersebut, penonton akan terbawa dan hanyut untuk mengikuti gerakan dari penari, sehingga penontonpun melupakan irama gamelan yang mengiringi pertunjukan reog tersebut.

Gamelan mempunyai peranan yang sangat penting dalam kesenian reog. Di samping para penari, posisi penggamel juga sangat mendukung kesuksesan pertunjulan. Para penari tidak akan menarik dan mempesona tanpa diiringi gamelan. Oleh karena itu istilah yang dipakai dalam kesenian reog, hubungan penari dan gamelan adalah " dol tinuku - jual beli ". Maksudnya, dalam pertunjukan reog terjadi jual beli antara penari dan gamelan, penari menjual gerakan dan ekspresinya, dan sebaliknya penggamel menjual bunyi - bunyian yang sudah di komposisikan secara menarik. Komposisi gamelan reog tergolong unik, yaitu perpaduan gamelan yang bersuara "slendro" dan "pelog". Perpaduan suara pelog dan slendro inilah yang menimbulkan suasa magis dalam kesenian reog.

Instrumen Gamelan Reog, menurut Sejarah Kebudayaan mempunyai nilai historis tersendiri yang berkaitan dengan sejarah Jawa kuno, yaitu bersatunya dua wangsa besar di bumi Jawa ini. Dua wangsa besar itu adalah Wangsa Syailendra dan Wangsa Sanjaya. Mulyadi dalam bukunya Sejarah Kerajaan Wengker, menyebutkan bahwa semasa Wangsa Sanjaya berkuasa, nada gamelannya mempunyai gamelan yang bernada " pelog " saja sedangkan semasa Wangsa Syailendra gamelan keseniannya bernada " slendro". Dua wangsa yang semula saling bermusuhan tersebut akhirnya bersatu dan hidup berdampingan kembali.

Pada masa kerajaan Wengker kuno abad V sampai abad X, terdapat perubahan yang mendasar terkait nada gamelan. Gamelan yang pada masa itu hanya bernada " Pelog " saja, ditambah dengan nada gamelan " Slendro ", karena pada masa itu ada perkawinan yang melibatkan dua wangsa besar Jawa, yaitu perkawinan Rakai Pikatan dan Pramodha Wardhani. Rakai Pikatan yang berasal dari Sanjaya wangsa kawin dengan putri dari Syailendra wangsa, Pramodha Wardhani. Dari perkawinan tersebut, secara otomatis terjadi pembauran dalam segala segi kshidupan termasuk gamelan. Perkawinan dua wangsa tersebut juga dikuti oleh nada gamelan "pelog" dan "slendro". Prasasti yang berupa nada gamelan ini hanya ada dalam suatu kesenian yang atraktif, magis yaitu kesenian Reog Ponorogo.

2 komentar:

arifudin mengatakan...

mari lestarikan budaya bangsa :)

Anonim mengatakan...

Ulasan yang menarik untuk dijadikan bahan tulisan atau penelitian.... ok

Poskan Komentar

Mari kita rembug bersama, agar kesenian reog lebih berkwalitas dan berkembang, tetapi jika ngobrol tanpa ada ACTION sama halnya BO'ONG, maka setelah kita ngbrol sambil NGOPI kita TATA gamelan dan langsung kita REOGAN.....